Jaka's Mind

Cara Menaklukan Suatu Negara di Timur Tengah

Penaklukan suatu negara dapat dilakukan secara frontal alias perang dan bisa juga dilakukan dengan cara secara tidak langsung. Cara yang dilakukan secara tidak langsung, adalah penaklukan yang dilakukan tanpa disadari oleh musuh.

Melihat gejolak yang terjadi di negara-negara timur tengah, saya melihat itu merupakan suatu penaklukan di negara-negara kaya minyak oleh barat secara tidak langsung. Pertama, yang dilakukan oleh negara barat adalah dengan mengiming-imingi suatu sistem politik yang bernama demokrasi. Sistem demokrasi yang ditawarkan oleh Amerika ini secara tidak langsung, dapat menghancurkan suatu negara. Kita lihat hasilnya, runtuhnya rezim-rezim penguasa di Timur Tengah tidak memberikan kebaikan terhadap kondisi politik di Timur Tengah.

Demokrasi, ya di situ semua orang berhak berpendapat dan kekuasaan berada di tangan rakyat. Tapi itu lah yang membingungkan, negara-negara Timur Tengah yang terdiri dari berbagai suku, tentunya terdiri dari berbagai pendapat. Dan di suatu sistem bernama demokrasi, seorang pemimpin dapat dengan seenaknya dijelek-jelekan oleh rakyatnya. Tentunya di negara yang bersistem demokrasi, ada yang namanya oposisi, dan oposisi akan membeberkan kejelekan pemimpinnya, dengan tujuan pemimpin itu lengser, dan oposisi menduduki tampuk kekuasaan. Setelah oposisi naik, oposisi dari oposisi ini akan membeberkan kejelekan pemimpin yang baru ini, dengan tujuan merebut kembali kekuasaan. Dengan dijelek-jelekannya pemimpin, maka pemimpin itu tidak mempunyai wibawa dan harga diri, sehingga wajar, perintah pemimpin kadang tidak dituruti oleh rakyatnya.

Dan terus saja, negara itu akan disibukkan oleh politik yang tidak beres-beresnya, sehingga menghambat negara tersebut untuk berkembang.

Dengan adanya sistem demokrasi seperti itu, maka akan mudah untuk menciptakan konflik internal. Antar suku, antar sekte agama, antar agama, akan mudah untuk diadu domba, toh semua golongan berpendapat dia yang paling benar, karena kekuasaan berada di tangan rakyat seutuhnya. Perang antar golongan pun tak dapat dihindari. Contoh negara-negara yang masih disibukkkan dengan konflik internal adalah Irak, Afganistan, Lebanon, dan sekarang adalah Libya.

Padahal di satu sisi, suatu negara itu membutuhkan decision maker yang harusnya didukung oleh rakyatnya. Tapi karena demokrasi, pasti ada pro dan kontra. Baik yang pro dan kontra akan terang-terangan menyuarakan pendapatnya, dan lalu terjadi konflik… hmmm

Sampai sekarang, saya tidak melihat satu negara pun yang mempunyai sistem demokrasi, rakyat memberikan loyalitas yang tinggi pada pemimpinnya.

Jadi teringat musketeer dan samurai yang rela mati demi melindungi pemimpinnya.

Ada satu hal lagi, tidak pernah dalam sejarah Islam, pendahulu-pendahulu yang sholih memberikan pemberontakan terhadap pemimpin yang masih solat. Seorang Ibnu Taimiyah, dan Imam Ahmad bin Hanbal pernah dipenjara oleh penguasanya, dan mereka tidak pernah memerintahkan pengikutnya untuk memberontak terhadap pemimpin yang sah, selama pemimpin itu masih menegakkan solat.